HPS Ke-38, Momen Eksistensi Indonesia Dalam Optimasi Lahan Rawa

Kalimantan Selatan (28/09/2018) – Bertempat di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Sekertaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengecek langsung kesiapan penyelenggaraan Hari Pangan Sedunia ke-38. Ratusan Hektar lahan yang beberapa bulan sebelumnya merupakan lahan rawa yang tidak termaanfaatkan telah disulap menjadi areal persawahan yang lebih produktif dari sisi keekonomian masyarakat.

Syukur terlihat turun langsung menyusuri petakan-petakan areal persawahan yang telah tertanami padi. Hampir 100% areal lahan rawa yang telah dimanipulasi ini sudah tertanami padi dan siap panen, bahkan ada yang terlihat telah dipanen.

Pengelolaan air merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya pertanian di lahan rawa pasang surut. Penyiapan lahan padi pada sawah pasang surut sangat berbeda dengan lahan sawah irigasi. Irigasi. Irigasi tersier atau handil yang dibangun di area HPS Kecamatan Jejangkit menjadi kunci pengelolaan air di areal persawahan lahan rawa. Selain tanaman padi, Syukur menginginkan beberapa area yang masih kosong lebih bisa dimanfaatkan lagi dengan tanaman seperti jagung dan tanaman hortikultura, ditambah dengan adanya penambahan berbagai ikan endemik yang disebar di irigasi tersier serta bantuan itik alabio dapat membentuk ekosistem baru yang menguntungkan bagi masyarakat sekitar.

Sebelumnya, di tempat terpisah, di arela Kantor Gubernur Kalimantan Selatan. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih memimpin Rapat Pleno persiapan HPS ke-38. Pending Dadih memastikan bahwa para petani tidak perlu khawatir dengan keberlanjutan areal sawah baru yang digunakan untuk penyelenggaraan HPS kali ini. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memastikan akan ada pendampingan selama tiga tahun kepada para petani pasca HPS sampai korporasi petani terjadi di wilayah tersebut.

“Korporasi akan terjadi disitu, dikawal dari aspek teknis, dikawal dari aspek menejerial dan aspek bisnisnya, dikawal terkait penguatan kelembagaannya. Karena ini titik kunci keberlanjutan penganganan lahan (rawa) ini”, jelas Pending Dadih. Pengelolaan nanti mengedepankan aspek mekanisasi. Yang lebih kemprehensif lagi, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal telah melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan Rice Miling Unit (RMU) di kawasan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *